HIV/AIDS: Epidemologi, Stuktur Virus, Penularan, Diagnosis

  • Whatsapp
HIV AIDS

Salah satu virus yang paling ditakuti karena hingga saat ini obatnya belum ditemukan, yah HIV/AIDS. Untuk orang yang terinfeksi virus HIV sangatlah sulit untuk sembuh, apalagi ketika sudah mengalami komplikasi yang berujung ke AIDS. Olehnya itu, yuk kenali apa sih itu HIV/AIDS, simak penjelasannya pada artikel ini.

Pengertian HIV/AIDS

HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus. HIV adalah virus yang memperlemah sistem kekebalan tubuh manusia, biasanya hanya salah satu dari dua jenis virus (HIV-1 atau HIV-2) yang secara progresif merusak sel darah putih (limfosit) sehingga menyebabkan berkurangnya sistem kekebalan tubuh.

Infeksi dari HIV menyebabkan penurunan sistem kekebalan tubuh dengan cepat, sehingga penderita mengalami kekurangan imunitas.

Menurut kasus, orang yang sudah terinfeksi HIV akan berlanjut menjadi AIDS apabila tidak diberi pengobatan dengan antiretrovirus (ARV).

AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome) bila ditinjau dari segi bahasa terdiri dari acquired berarti didapat, immuno berarti sistem kekebalan tubuh, deficiency berarti kekurangan, dan syndrome berarti kumpulan gejala.

AIDS adalah komplikasi gejala dan penyakit yang disebabkan oleh virus HIV dengan cara merusak sistem kekebalan tubuh manusia, sehingga tubuh mudah diserang penyakit lain yang dapat berakibat fatal.

Pada tahap AIDS, biasanya virus sudah berkembang dan menyebabkan kehilangan sel darah putih (sel CD4+/T helper cells) secara signifikan.

Kondisi ini menjelaskan kenaikan tingkatan infeksi virus HIV. Kondisi akan lebih parah yakni dari HIV menjadi AIDS tergantung pada jenis dan virulensi virus, status gizi, serta cara penularannya.

Epidemiologi HIV/AIDS

Kasus HIV/AIDS masih terus berkembang dan penyebarannya masih terus terjadi, sehingga angka kejadiannya masih tinggi hingga saat ini.

Menurut sejarah, kasus pertama HIV/AIDS awalnya dilaporkan oleh Center for Disease Control (CDC) di Amerika Serikat pada sekelompok kaum homoseksual di California dan New York City pada tahun 1981.

Dalam literature yang lampau, ditemukan kasus yang cocok dengan definisi surveilans AIDS pada tahun 1950 dan 1960 an di Amerika Serikat (US). Sampelnya diambil dari jaringan potong beku dan serum dari seorang pria berusia 15 tahun di St. Louis AS yang dirawat dan akhirnya meninggal akibat Sarkoma Kaposi.

Kasus agresif pada 1968 menunjukkan antibodi HIV positif dengan Western Blot dan antigen HIV positif dengan ELISA. Pasien ini tidak pernah pergi keluar negeri sebelumnya, sehingga diduga penularannya berasal orang lain yang tinggal di AS pada tahun 1960-an atau lebih awal.

Virus penyebab AIDS diidentifikasi oleh Lurc Montagnier pada tahun 1983 dan saat itu diberi nama LAV (lymphadenophaty virus). Kemudian Robert Gallo menemukan virus penyebab AIDS pada 1984 yang saat itu dinamakan HTLV-III. Pada tahun 1985, ditemukan tes untuk memeriksa antibodi terhadap HIV dengan metode ELISA.

jumlah kasus hiv tahun 2014

Kasus pertama AIDS di Indonesia dilaporkan oleh Departemen Kesehatan tahun 1987 yaitu pada seorang warga negara Belanda di Bali. Sebelumnya ditemukan kasus pada bulan Desember 1985 secara klinis dengan metode Elisa positif sesuai dengan diagnosis AIDS, namun hasil tes dengan metode Western Blot di Amerika Serikat hasilnya negatif.

Kasus kedua infeksi HIV ditemukan pada bulan Maret 1986 di Rumah Sakit Umum Pemerintah (RSUP) Cipto Mangunkusumo pada pasien penderita hemofilia dan termasuk jenis non-progressor, dimana kondisi kesehatan dan kekebalannya cukup baik selama 17 tahun tanpa pengobatan. Kasus ini sudah terkonfirmasi dengan metode Western Blot, dan masih berobat jalan di RSUP Cipto Mangunkusumo tahun 2002 silam.

Struktur Virus HIV

struktur virus hiv

Bahasan selanjutnya adalah tentang struktur virus HIV. Menurut International Committee on Taxonomy of Viruses (ICTV) pada tahun 2000, klasifikasi HIV adalah sebagai berikut:

  • Famili: Retroviridae
  • Genus: Lentivirus
  • Subgrup: Primate lentivirus
  • Spesies: Human Immunodeficiency Virus type 1; Human Immunodeficiency Virus type 2.

HIV terdiri dari dua tipe yakni HIV-1 dan HIV-2. Kedua virus ini menyebabkan gejala yang serupa, yaitu immunodefisiensi. Namun antigenitas HIV-2 tidak seganas HIV-1. Penyebaran untuk tipe HIV-1 di seluruh dunia, sedangkan HIV-2 biasanya endemik di Afrika Barat.

Genom HIV terdiri atas dua tipe gen yaitu gen struktural dan gen regulator. Gen struktural berfungsi dalam pengaturan dan sintesis protein yang membentuk karakteristik fisik dan morfologi virus, sedangkan gen regulator mengatur aktivitas virus seperti produksi enzim, replikasi dan lainnya.

Struktur genom RNA pada HIV terdiri dari 3 gen utama yang bertugas mengkode pembentukan struktur-struktur virus yaitu gen gag, pol, dan env. Selain itu, terdapat jenis gen tambahan yaitu tat, rev, dan nef.

Secara struktural, HIV terdiri dari dua bagian utama yakni amplop dan inti. Komponen amplop bagian luar meluputi penonjolan (spikes/knobs) yang keluar dari membran lipid ganda, berperan dalam perlekatan virus pada sel inang saat infeksi.

Komponen inti berada di bawah lapisan membran dan terikat oleh protein serta melapisi dua rantai RNA yang begitu identik. Gen gag berfungsi menyandi pembentukan protein gag yang merupakan protein komponen inti.

Siklus Hidup HIV/AIDS

HIV-1 akan menempel pada sel limfosit T inang melalui mekanisme kompleks yang melibatkan komponen amplop bagian luar dan reseptor CCR5 atau CXCR4 pada protein CD4 sel inang. Selain menempel di limfosit T, HIV juga bisa menginfeksi makrofag, yakni sel glia pada otak.

siklus hidup virus HIV

Amplop virus akan melakukan fusi atau penggabungan dengan memban sel, kemudian virus masuk ke dalam sel inang. Pada stadium ini, individu dinyatakan terinfeksi HIV-1.

Di dalam sel inang, RNA akan ditranskripsi balik menjadi DNA dan berintegrasi dengan DNA sel inang membentuk provirus. Enzim yang berperan dalam proses ini adalah enzim reverse transkriptase HIV dan enzim ribonuklease dari inang.

Provirus dapat berada dalam jangka waktu laten yang lama, bahkan bisa mencapai 10 tahun dan individu tidak menunjukkan gejala sakit.

Dalam periode laten ini, replikasi dan maturasi virus akan tetap berlangsung dalam jumlah yang sangat rendah. Provirus yang ada pada sel inang ikut menyebar ke sel anaknya seiring dengan replikasi genom sel inang saat mitosis. Ketika fase laten berubah menjadi fase litik, replikasi dan maturasi virus akan meningkat dan menekan jumlah sel T CD4+.

HIV adalah golongan lentivirus yang merupakan subgroup dari retrovirus. Nah, sebelumny mimin pernah singgung bahwa terdapat dua jenis virus HIV yang ditemukan yaitu HIV-1 dan HIV2.

HIV-1 merupakan jenis yang paling banyak menginfeksi manusia. HIV menginfeksi tubuh manusia dengan cara menempel pada sel-sel yang mempunyai molekul CD4 sebagai reseptor utamanya yaitu limfosit T4.

Nah, perlu diketahui sel lain yang memiliki reseptor CD4 yaitu sel monosit, sel makrofag, sel-sel dendritik, sel retina, sel leher rahim serta sel langerhans.

Cara Penularan HIV

Cara penularan HIV merupakan salah satu konsep penting yang juga harus Anda pahami. Setiap benda asing yang merusak tubuh manusia tentunya memiliki jalan masuk tertentu agar dapat menginvasi tubuh dan berinteraksi dengan tubuh secara maksimal.

Seperti halnya virus ini yang memiliki jalan masuk untuk menginfeksi tubuh manusia. Di Indonesia, virus HIV menjadi salah satu masalah kesehatan utama dan salah satu penyakit menular yang dapat mempengaruhi kesehatan masyarakat.

HIV dapat masuk ke dalam tubuh manusia melalui kontak langsung dengan darah ataupun cairan tubuh seperti cairan semen, secret vagina, cairan serviks, dan cairan otak. Namun virus ini juga dapat masuk lewat air mata, urin, keringat, dan ASI, tetapi hanya dalam jumlah yang sangat sedikit.

Penularan HIV dapat terjadi melalui berbagai cara, seperti:

  1. Melakukan hubungan seksual dengan pengidap HIV tanpa menggunakan kondom, baik secara vaginal, oral, maupun anal. Ini adalah cara yang paling umum terjadi yaitu mencapai 80-90% total kasus di dunia.
  2. Kontak langsung dengan darah, produk darah, atau jarum suntik yang sudah tercemar HIV. Hal ini meliputi transfusi darah yang tercemar, pemakaian jarum suntik yang tidak steril, dan penyalahgunaan narkoba dengan jarum suntik yang dipakai secara bersamaan. Tidak sengaja tertusuk jarum pada petugas kesehatan juga salah satu cara penularan melalui kontak langsung dengan darah.
  3. Pembuatan tatto yang dilakukan tidak dengan alat-alat yang steril dan penggunaan pisau cukur yang tidak diganti pada saat bercukur di salon.
  4. Transmisi secara vertikal dari ibu pengidap HIV kepada bayinya (selama proses kelahiran dan melalui ASI).

Kelompok risiko tinggi terhadap HIV/ AIDS adalah pada pengguna narkotika, pekerja seks komersil dan pelanggannya, serta narapidana.

Manifestasi Klinis HIV/AIDS

Infeksi HIV yang sedang berlangsung menyebabkan penurunan jumlah sel CD4 yang progresif. Pada penderita HIV/AIDS jumlah sel CD4 terus menurun, dan pada saat infeksi oportunistik mulai muncul, semua sel CD4 akan hilang.

Penurunan limfosit sel T CD4 dan perkembangan infeksi HIV bisa anda lihat pada gmabar di bawah ini.

Penurunan Limfosit T CD4 dan Perkembangan Infeksi HIV

Nah gambar di atas menunjukkan bahwa perkembangan infeksi HIV yang tidak diobati menjadi AIDS mengikuti pola yang khas. Pertama, terdapat respons imun yang kuat terhadap HIV dan jumlah HIV menurun.

Namun pada akhirnya respons imun kewalahan dan jumlah virus HIV meningkat perlahan, sementara sel-sel T CD4 menurun perlahan. Saat jumlah sel T menurun drastis hingga di bawah 200/mm3 darah, peluang infeksi oleh patogen-patogen oportunistik mulai terbuka.

Infeksi HIV pada akhirnya menyebabkan kerusakan sel-sel imun utama yang melemahkan respons imun inang secara signifikan. Kematian akibat AIDS merupakan hasil dari infeksi sekunder yang biasanya disebabkan oleh satu atau lebih patogen oportunistik.

Stadium HIV Menurut WHO

Berdasarkan badan kesehatan dunia WHO, manifestasi klinis HIV/AIDS dibedakan berdasarkan empat stadium yaitu stadium I, II, III, dan IV. Gejala klinis pada masing-masing stadium, antara lain:

Stadium I

  1. Tidak ada penurunan berat badan
  2. Tanpa gejala atau hanya limfadenopati generalista persisten

Stadium II

  1. Penurunan berat badan <10%
  2. ISPA berulang seperti sinusitis, otitis media, tonsilitis, dan faringitis
  3. Herpes zooster dalam lima tahun terakhir
  4. Luka di sekitar bibir (kelitis angularis)
  5. Ulkus mulut berulang
  6. Ruam kulit yang gatal
  7. Dermatitis seboroik
  8. Infeksi jamur pada kuku

Stadium III

  1. Penurunan berat badan <10%
  2. Diare, demam yang tidak diketahui penyebabnya >1 bulan
  3. Kandidiasis oral atau oral hairy leukoplakia
  4. TB paru dalam 1 tahun terakhir
  5. Limfadenitis TB
  6. Infeksi bakterial yang berat seperti pneumonia dan piomiosis
  7. Anemia (<8gr/dl) dan trombositopeni kronik (<50109 per liter)

Stadium IV

  1. Sindroma wasting (HIV)
  2. Pneumoni pneumocystis
  3. Pneumonia bakterial yang berat berulang dalam 6 bulan
  4. Kandidiasis esophagus
  5. Herpes simpleks ulseratif >1 bulan
  6. Limfoma
  7. Sarkoma Kaposi
  8. Kanker serviks yang invasive
  9. Retinitis CMV
  10. TB ekstra paru
  11. Toksoplasmosis
  12. Ensefalopati HIV
  13. Meningitis kriptokokus
  14. Infeksi mikobakteria non-TB meluas
  15. Lekoensefalopati multifokal progresif
  16. Kriptosporidiosis kronis, mikosis meluas

Diagnosis HIV/AIDS

Diagnosis HIV/AIDS dapat ditentukan melalui beberapa cara pemeriksaan. Pemeriksaan laboratorium menjadi poin penting untuk mengetahui secara pasti apakah seseorang terinfeksi HIV. Hal ini karena pada infeksi HIV, gejala klinisnya baru dapat terlihat setelah bertahun-tahun lamanya.

Terdapat beberapa jenis pemeriksaan laboratorium untuk memastikan diagnosis infeksi HIV. Secara garis besar dapat dibagi menjadi pemeriksaan serologik untuk mendeteksi adanya antibodi terhadap HIV dan pemeriksaan untuk mendeteksi keberadaan virus HIV.

Deteksi adanya virus HIV dalam tubuh dapat dilakukan dengan isolasi dan biakan virus, deteksi antigen, dan deteksi materi genetik dalam darah pasien.

Pemeriksaan yang lebih mudah dilaksanakan adalah pemeriksaan terhadap antibodi HIV. Sebagai skrining biasanya digunakan metode ELISA (enzyme-linked immunosorbent assay), aglutinasi, atau dot-blot immunobinding assay. Metode yang biasanya digunakan di Indonesia adalah dengan ELISA.

Hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan tes terhadap antibodi HIV ini yaitu adanya masa jendela (window period).

Masa jendela adalah waktu sejak tubuh terinfeksi HIV sampai mulai timbulnya antibodi yang dapat dideteksi dengan pemeriksaan. Antibodi mulai terbentuk pada 4-8 minggu setelah infeksi. Sehingga jika pada masa ini hasil tes HIV pada seseorang yang sebenarnya sudah terinfeksi HIV dapat memberikan hasil yang negatif.

Untuk itu jika kecurigaan akan adanya risiko terinfeksi cukup tinggi, perlu dilakukan pemeriksaan ulang tiga bulan kemudian.

Seseorang dinyatakan terinfeksi HIV apabila dengan pemeriksaan laboratorium terbukti terinfeksi HIV, baik dengan metode pemeriksaan antibodi dan pemeriksaan untuk mendeteksi adanya virus dalam tubuh. Diagnosis AIDS untuk kepentingan surveilans ditegakkan apabila limfosit CD4+ kurang dari 200 sel/mm3.

Baca Juga: Coronavirus Disease 2019 (COVID-19)

Demikian uraian lengkap tentang HIV/AIDS, ingat selalu jaga diri dengan mencegah masuknya virus ini ke tubuh kamu.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *